In some place, two person. Conversation.
The girl: trus2, cerita- cerita dong…
How r u?
The man: abis sakit.
Kemarin2 gak bisa bangun dari tempat tidur.
The girl: kenapa? Kok bisa? Kecapean kerja?
The man: iya, kerjaanku lagi rush banget… empat proyek dalam 1 bulan.
Sekarang ada tiga lagi produksi, 1 lagi penyelesaiannya.
Tapi gak papa, aku udah biasa kok. Kmaren2, dari terakhir ktemu kamu, kerjaan hektik banget. Seperti gak ada waktu untuk bernafas. Klien2 aku, jadwal krja aku udah penuh sampai bulan September. Jadinya kemaren aku sakit… sampai gak bisa bangun… tiga hari dirumah. Gak kluar2. Hanya bangun dari tempat tidur bikin makanan, nonton tv dan tidur lagi.
The girl hanya diam menatap. Ingin sekali ia menawarkan untuk merawat the man. Tapi kata2 itu tak keluar dari mulutnya.
The man: So tell me, how r u?
The girl: Im good, many things change, sort of.
Katanya simple. The girl tak tahu harus memulai pembicaraan dari mana. Banyak sekali yang ingin ia ceritakan, ia ungkapkan. Tapi entah, mereka berdua memang selalu oukward. Tak biasa berkata-kata. Hanya senyum senyum simpul dan liat-liatan saja aktivitas mereka.
The girl mulai menceritakan pemikiran-pemikirannya, lalu ditanggapi oleh the man. The man ingin membuat sesuatu yang berguna bagi orang banyak. Ia mulai membicarakan seseorang dari Pakistan yang mendapat nobel tahun ini karena membuat bank untuk orang-orang miskin dengan jumlah nominal yg rendah. Dan merubah perekonomian Negara itu. Lalu ia membicarakan seseorang yang dalam 35tahun dalam hidupnya menanam pohon di padang gurun yang tandus. 5 bibit setiap harinya. Konsisten. Pada awalnya, semua org menganggapnya gila karena daerahnya tidak kondusif untuk ditanami pohon. Kaerna cara seperti itu tak akan berhasil. Tapi orang ini belajar terus, mempelajari bibit apa yang tepat, banyak membaca buku, dan konsisten tetap menanam pohon. Walhasil, daerah itu kini menjadi teduh, sejuk dan adem.
The man: ya, try to make different in the world. Don’t care what people said, but if u believe in your self, one day it’ll be proof.
You too… jangan termakan kata2 orang yang mematikan dirimu sendiri. Your still young. Do everything, make anything you want. And if you find it a dislike, ok, find some thing else u like.
Jangan sampai pada saat lo udah tua, dan menyesali banyak hal yang tidak lo lakukan dimasa muda lo. And then you’re too old for doing it..
The girl: you right.
And they start talking about agroculture di Indonesia, they talk about sea, talking about poverty, how its hard to work something out for the country…
the girl: its about the birokrasi. Sesuatu yang seharusnya mudah, dibikin susah di Indonesia. Jangankan jauh2 dari segi agro atau kemiskinan, hal yang simple aja, birokrasi bikin sim, seharusnya bikin sim hanya bayar 65rb kalau kita ikut tesnya satu persatu secara benar, I mean, tanpa pakai calo. Tapi, kalau ikut aturan sebenar2nya, pada tes tertentu, semua orang digugurkan. Lalu diminta bayaran sekitar 300-400rb supaya bisa lulus test katanya. Its just sucks man!
The man: Everythings is business in here. That’s why Negara kita gak maju2. Semua yang seharusnya mudah jadi dipersulit oleh birokrasi. “mereka” yang terlibat disana membisniskannya.
Lihat jepang, bisa maju, mungkin kl dilihat dari apa yang pernah mereka alami, jaman kerajaannya yang membuat mereka disiplin, bom hirosima-nagasakinya yg membuat mereka terpacu untuk maju, atau bahkan Doraemonnya dengan teknologi canggihnya. Doraemon sudah dibuat sejak tahun 70An loh! Dan tanpa disadari itu sudah membuat pola pikir masyarakat jepang untuk berfikir kreatif. Mereka, jika buntu akan sesuatu, they invent things… banyak sekali penemuan2 dijepang bahkan untuk kehidupan sehari-hari. Dan itu sudah menjadi budaya. Membuat mereka maju, tak mudah menyerah. Tidak seperti kita. Jarang sekali orang Indonesia yang invent things…
The girl: aku yakin banyak orang Indonesia yang mampu invent sesuatu. Tapi mungkin selama ini semua itu hanya jadi ide, hanya jadi penelitian. Dan tak pernah betul betul di approve. Atau jarang sekali.
Misalnya saja di badan sector planologi kota. Para ilmuan planologi merencanakan membuat kota dengan sistem yang sangat baik. Mereka bekerja, mensurvey, membuat system, rencana kedepan dan membukukannya. Lalu, setelah itu apa?
Hasil rancangan mereka kumpulkan ke pemda. HANYA ditaruh di meja pemda. Menumpuk dengan hasil survey dan rancangan-rancangan lain. Tak ada yang direalisasikan. Balik lagi, bagi birokrasi kepemerintahan semua itu menjadi bisnis. Kalau tidak bisa membawa hasil bagi oknum-oknum tertentu, hasil penelitian jerih payah itu hanyalah menjadi sebuah dokumentasi yang menumpuk di meja birokrasi.
The girl: sayang sekali.
The man mulai menyalahkan rokok. Lalu mulai mengungkapkan lagi pikirannya.
Semakin larut…
The man menceritakan awal dari kariernya. Ia bekerja ikut orang, lalu pada akhirnya bertemu dengan sorang perempuan yang akhirnya menjadi istrinya. Mulai cerita dari mana ia berasal, tanah kelahirannya yang indah… ayah ibunya, kakak dan adik2nya, bagaimana masakecilnya ia habiskan. lalu pidah kota, lalu pindah kota lagi, baru saja berteman, ia sudah harus pindah kota lagi karena ayahnya pindah dinas. The girl mendengarkan, membayangkan…
The man mendeskrisikan kota kota yang pernah ia lewati, membicarakan kecintaannya terhadap tanah… lapang… landscape… sampai akhirnya ketika ia sudah bersama dengan istrinya, mereka mencari rumah untuk ditinggali…
Mereka jatuh cinta pada rumah-rumah dengan halaman luas… ada beberapa rumah yang melekat dihati mereka. Yang satu diluar Jakarta, dipinggir pantai yang landai berbukit-bukit… beberapa didalam kota dengan pohon2 rindang…
The girl: u should buy a house. Why don’t u buy it?
The man: I will.
The girl: why not now? What r u waiting 4? Kamu mapan.
The man: just the moment. Ngumpulin duit dulu.
The girl: beli rumah itu kan seperti invest. Kenapa gak DPin dulu? Nanti keburu tambah mahal harganya, dan bisa-bisa udah laku kalo nunggu duit kumpul dulu.
The man: ya, tadinya uangnya udah kumpul, but I already brokeup with my former wife.
its my way… susah kalau cicil… aku mau nabung aja dulu.
Kata the man sambil menghembuskan asap rokok di ujung bibirnya.
The girl: I have a house di daerah cilandak. Halamannya luas, rumahnya lebih kecil. But I think its too big if u live by your own there. I used to lived there, but not again.
The man: luasnya berapa?
The girl: about nine hundred meter. I used to called it white house. Everything is white there exept the roof.
The man: rumahnya didaerah depan citos?
The girl: iya tapi kesanaan lagi.
The man: ditengah ruangannya ada bundaran?
The girl: how d u know?
The man: trus, dihalaman depannya luas, penuh pohon-pohon besar. Dan ada halaman belakangnya kolam renang gitu?
The girl: tapi dihalaman belakannya kolam ikan. How do you now exactly?
The man: I loved that house. My former wife and me tadinya mau sewa rumah itu. Rumah itu mau dikontrakin skitar 5 tahun yang lalu kan?
The girl: heeeyy!!! That’s my house!! That’s mine! How could…
Yayaya… the girl and the man shouldve meet 5 years ago… they just known each other in that moment… just now…
Semakin larut, mereka loncat- loncat topik, membahas politik, kehidupan, film, masa penjajahan, belanda, jepang, mika, merdeka, sukarno, orde soeharto dan lainnya. Tak terasa asiknya obrolan2 mereka sudah sejak jam sepuluh mereka bertemu.
Kini jam 4, subuh.
The man: pulang yuk… kamu capai
The girl: okay…
The man: kayaknya besok I will punch 3 of my friends
Hahaha… aku gak akan lupa sama tempat ini. crazy… this is crazy…
I will never forget the rose, the chairs…
The man melihat kearah lukisan mawar merah diantara dua kursi kayu model betawi kuno.
The girl berdiri sambil tersenyum simpul. Ia mengambil pakaiannya. Mulai mengancingkan satu persatu bajunya. The man melihat langit-langit tempat itu. Sambil memakai kembali celana jeans belelnya.
The man: i was expecting the mirror dilangit2nya loh.
They laught. Sambil keluar dari kamar reyot yang dikanan kiri tempat tidur adalah cermin sebesar tembok. Disewakan jam-jaman. Tempat tidur tanpa selimut. Hanya disediakan 2 handuk. 2 kondom disana dan kamar mandi yang sudah bocel-bocel.
The man: so, I’ll meet you again 2 months from now?
The girl: why two months?
Alesan the man hanya karena kebiasaan mereka ketemu tiap dua bulan sekali. Biasanya hanya untuk melakukan ritual sex. Lalu selesai. Tanpa kata-kata.
Antara setengah jam sampai satu jam memuaskan hasrat birahi. Baru kali ini ada tambahan 5 jam obrolan pengenalan diri.
The man umurnya baru saja kepala 4, divorced, mapan.
The girl gadis cantik, umur kepala 2, single. Sangat mengadore the man.
They have their own world…
Malam itu diakhiri dengan pop kiss.
Entah kapan lagi mereka bertemu.
4 juli 2007